KALTIM.WAHANANEWS.CO, Penajam Paser Utara - Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, mewaspadai potensi kenaikan inflasi dengan menyusun langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga serta memperkuat ketahanan pangan daerah.
"Ancaman inflasi dapat terjadi sewaktu-waktu," ujar Asisten II Bagian Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara Hadi Saputro, Minggu (14/6/2026).
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran Nilai Langkah PPU-Kanada di Kawasan Otorita IKN Jadi Model Diplomasi Ekonomi Daerah Visioner
Inflasi dapat terjadi, terutama akibat gangguan produksi dan distribusi pangan yang dipengaruhi cuaca ekstrem maupun dinamika global, serta akibat kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM).
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Penajam Paser Utara mencatat inflasi di kisaran kisaran 2,3 persen, jelas dia, dan pemerintah kabupaten tekan menyusun dan menjalankan sejumlah langkah strategis pengendalian inflasi.
Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara melakukan pemantauan komoditas strategis sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor guna memastikan distribusi pangan tetap berjalan lancar.
Baca Juga:
Pemkab Penajam Paser Utara Ajak Warga Kelola Sampah Lewat Bank Sampah
Cuaca ekstrem berdampak transportasi logistik jalur laut yang selama ini menjadi andalan pasokan barang dari Pulau Jawa dan Sulawesi, gelombang tinggi kerap menyebabkan keterlambatan kedatangan kapal sehingga mempengaruhi distribusi barang ke daerah.
"Keterlambatan pasokan mengganggu ketersediaan dan mempengaruhi harga bahan pangan, dari hasil pantauan ketersediaan pangan masih dalam kondisi aman," katanya.
Pengendalian inflasi juga dilakukan dengan gerakan pangan murah, operasi pasar di sejumlah wilayah secara berkala," tambahnya.
Kemudian Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara melakukan pengendalian inflasi melalui sektor pertanian dengan program membagikan bibit tanaman pangan kepada masyarakat.
Program tersebut memperkuat ketahanan pangan sebagai langkah jangka panjang, melalui pemanfaatan lahan pekarangan dan penguatan cadangan pangan, menurut dia, serta pemberdayaan kelompok tani dan pelaku usaha pangan lokal.
Bibit cabai, tomat, dan komoditas lainnya kepada masyarakat, untuk mengurangi ketergantungan terhadap pembelian komoditas pangan di pasar sehingga dapat menekan pengeluaran rumah tangga saat terjadi kenaikan harga.
[Redaktur: Amanda Zubehor]