Berdasarkan riset, penjualan daun segar hanya menghasilkan Rp80–Rp120 juta per hektare per tahun. Namun melalui hilirisasi menjadi produk ekstrak berkadar tinggi, nilai ekonominya bisa melonjak drastis hingga Rp2,3 miliar sampai Rp5,7 miliar per hektare per tahun.
"Hilirisasi adalah kunci. Dengan mengubah bahan mentah menjadi ekstrak terstandar atau produk farmasi, nilai ekonominya bisa meningkat ribuan kali lipat. Ini adalah peluang nyata yang didukung validasi ilmiah dan regulasi ekspor yang sah," jelas Islamudin.
Baca Juga:
Siswa SMKN 4 Samarinda Meninggal, Viral Diduga Akibat Sepatu Kekecilan
Dari sisi industri, Haris Wafa dari PT DJB Botanicals Indonesia mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini memasok lebih dari 80 persen kebutuhan kratom dunia.
Permintaan utama berasal dari Amerika Serikat dan Eropa untuk industri herbal, serta India dan Thailand untuk ekstraksi bahan alam.
PT DJB Botanicals sendiri telah menjadi pionir eksportir kratom di Kaltim sejak 2019 dan telah mengantongi izin ekspor dari Kementerian Perdagangan.
Baca Juga:
Asosiasi Kratom Indonesia Resmi Pilih Kepengurusan Baru 2024-2029 dan Siap Sinergi
Saat ini, fasilitas produksi mereka di Kutai Kartanegara memiliki kapasitas mesin grinder mill 1 ton per hari dan disk mill 8 ton per hari.
"Kami didukung jaringan pasokan yang luas mencakup Kutai Kartanegara, Kutai Barat, Kutai Timur, Penajam Paser Utara, Paser, hingga Kalimantan Selatan," kata Haris.
Ia menegaskan ke depan, para pelaku industri mendorong terciptanya East Borneo Botanicals Corridor. Konsep ini merupakan kolaborasi regional di wilayah timur Kalimantan untuk mengoptimalkan potensi komoditas botani endemik secara terintegrasi.